Lombok Tengah (Kabar Mandalika) – Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara I saat ini tengah melakukan pengerukan aliran Bendungan Pengga. Tepatnya di Dusun Kangas, Desa Kabul, Kecamatan Praya Barat Daya, Lombok Tengah.
Pengerjaan normalisasi tersebut dimulai sejak Juli 2026 setelah warga selama bertahun-tahun mengeluhkan kondisi bendungan yang dipenuhi sedimentasi.
Warga Dusun Kangas, Habibul Adnan, mengatakan kondisi Bendungan Pengga sebelum dilakukan normalisasi cukup memprihatinkan.
Sedimentasi yang menumpuk membuat kapasitas tampung bendungan berkurang drastis sehingga tidak mampu menampung debit air saat hujan deras.
Akibatnya, air kerap meluap hingga ke badan jalan dan permukiman warga. Kondisi tersebut tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berdampak terhadap anak-anak sekolah.
“Ketika hujan turun, air meluap ke jalan dan masuk ke rumah warga. Aktivitas masyarakat lumpuh, bahkan anak-anak sekolah tidak bisa pergi ke sekolah,” kata Habib.
Keprihatinan terhadap kondisi tersebut mendorong warga Dusun Kangas memperjuangkan normalisasi bendungan. Upaya itu mulai dilakukan sejak 2024 dengan menyampaikan aspirasi kepada
Perjuangan warga kemudian berlanjut melalui hearing bersama Komisi III DPRD Lombok Tengah. Dalam pertemuan tersebut, warga mendapat respons bahwa normalisasi akan dilakukan. Namun tertunda karena alasan keterbatasan anggaran.
Tidak berhenti di sana, warga kembali memperjuangkan aspirasi tersebut. Pada 2026, warga melakukan hearing dengan Komisi IV DPRD Provinsi NTB untuk mendorong agar persoalan Bendungan Pengga kembali mendapat perhatian.
Upaya panjang tersebut akhirnya membuahkan hasil. Sejak Juli 2026, pengerukan dan normalisasi aliran Bendungan Pengga mulai dilaksanakan.
Habib menyampaikan apresiasi kepada BBWS Nusa Tenggara I yang telah merespons aspirasi masyarakat dan merealisasikan normalisasi tersebut.
“Kami berterima kasih kepada BBWS NT I yang sudah merespons aspirasi kami. Ini merupakan perjuangan masyarakat yang sudah cukup lama,” ujarnya.
Menurutnya, normalisasi Bendungan Pengga sangat penting bagi masyarakat Dusun Kangas dan sekitarnya. Selain mengembalikan fungsi tampungan air, pengerukan sedimentasi diharapkan mampu mengurangi risiko banjir yang selama ini menghantui warga setiap musim hujan.
“Semoga dengan normalisasi ini bendungan bisa berfungsi kembali dengan baik dan tidak lagi terjadi banjir yang merendam jalan maupun rumah warga,” harapnya.
Warga berharap normalisasi tidak hanya menyelesaikan persoalan sedimentasi saat ini, tetapi juga diikuti dengan pemeliharaan secara berkala. Dengan demikian, fungsi Bendungan Pengga dapat tetap terjaga dan masyarakat tidak kembali menghadapi persoalan serupa di kemudian hari.
Dia berharap kepada Pemprov NTB ikut memperhatikan normalisasi BBWS ini. Menurutnya, pemprov bertanggung jawab terhadap kondisi bendungan yang ada agar tetap berfungsi normal.
“Semuanya punya tanggung jawab. Dewan juga kami minta agar ikut mengawasi pekerjaan ini. Dewan harus tahu bagaimana kondisi bendungan yang ada di NTB,” imbuhnya.
Hal ini disampaikannya karena saat ini banyak bendungan yang mengalami sidementasi.
