KabarMandalika – Pemprov NTB mengarsipkan penyelenggaraan ajang internasional MotoGP di Sirkuit Mandalika, Lombok Tengah. Langkah ini untuk memperkuat upaya pelestarian memori kolektif daerah.
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan NTB telah mempersiapkan berbagai dokumentasi terkait event balap dunia tersebut kini.
Sejumlah dokumentasi MotoGP itu disiapkan untuk ditampilkan dalam bentuk diorama kearsipan.
Menariknya, tidak hanya berfokus pada pendokumentasian peristiwa, tetapi juga merekam perjalanan panjang kawasan Mandalika sebelum hingga sesudah menjadi tuan rumah ajang internasional.
MotoGP sendiri pertama kali digelar di Sirkuit Mandalika pada tahun 2022. Pada tahun 2026 ini akan kembali digelar pada Oktober mendatang.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTB melalui Kepala Bidang Kearsipan, Khalik Saifullah mengatakan, pihaknya saat ini tengah melakukan penelusuran mendalam terkait sejarah kawasan Mandalika, termasuk aspek sosial dan budaya masyarakat setempat.
“Saat ini kami berkolaborasi dengan ITDC, Dinas Kebudayaan, serta Dinas Pariwisata untuk memotret informasi, baik kehidupan masyarakat, proses pembangunan hingga transformasi sirkuit sekarang,” ujarnya.
Pemprov NTB akan menghadirkan ruang diorama kearsipan fisik yang menampilkan berbagai arsip MotoGP Mandalika.
Diorama ini akan menyajikan dokumentasi lengkap, mulai dari legenda lokal seperti Putri Mandalika, proses pembangunan sirkuit, hingga pelaksanaan event MotoGP dari seri pertama.
“Tempatnya sudah tersedia. Seluruh dokumentasi foto dan video sedang dalam proses otentifikasi untuk memastikan keaslian hak cipta sebelum dipublikasikan,” kata Saifullah.
Tak hanya berfokus pada MotoGP, diorama ini juga akan memuat berbagai arsip penting lainnya, termasuk peristiwa bersejarah dan budaya lokal NTB.
Konsep diorama dirancang dalam empat tema besar yang mencakup sejarah masa lampau seperti letusan Gunung Samalas, Rinjani, dan Tambora, hingga perkembangan NTB di masa kini.
Menurut Saifullah, penyusunan arsip ini memiliki nilai strategis sebagai sumber edukasi sekaligus mitigasi bencana bagi generasi mendatang.
“Kita harus menyiapkan informasi yang jelas untuk anak cucu kita. Kejadian gempa di Lombok Utara atau event MotoGP misalnya, mungkin sekarang bekasnya masih ada. Tapi 10-20 tahun lagi memori apa yang tersisa. Arsip ini penting untuk edukasi dan mitigasi bencana karena fenomena alam bersifat periodik,” jelasnya.
Selain diorama fisik, hasil pengumpulan arsip juga akan ditampilkan dalam Pameran Virtual Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) yang dijadwalkan dapat diakses mulai 18 Mei mendatang.
Melalui platform ini, Pemprov NTB berharap dunia dapat melihat perjalanan Mandalika menjadi salah satu pusat perhatian global.